Oleh: Kristin Samah

JAKARTA (9/1/2019)—Kita mempersalahkan pilpres ketika seorang anak muda mencaci maki ulama dengan kata-kata kasar. Kita menuduh politik sebagai biang keladi ketika wajah seorang pemimpin disamakan dengan binatang, atau apa pun yang dianggap hina.

Jangan buru-buru mempersalahkan pilpres atau politik bila tidak ada lagi percakapan di meja makan. Ketika tidak ada lagi ruang perbincangan dalam keluarga maka rasa kepekaan pada sesama manusia pun lambat laun akan terkikis.

Kegelisahan melihat kecenderungan orang Indonesia sibuk dengan gadget juga dirasakan Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri ketika berbicara dalam acara “Ibu Mega Bercerita”. Ia melihat saat ini anak-anak muda lebih sibuk dengan telepon genggamnya daripada peduli pada apa yang terjadi di sekitarnya. Bukan hanya anak muda. Orang tua pun sudah kecanduan sosial media. 

Kepedulian tumbuh dengan cara memberi perhatian riil, bukan melalui gambar jempol atau jantung hati. Perdebatan dengan memperhatikan lisan, gesture, dan sikap tubuh akan mendekatkan perbedaan. Sementara perbincangan di dunia maya banyak menjadi sumber kesalahpahaman.

Rasa kemanusiaan hanya bisa diasah dengan interaksi nyata. Kepada anak cucunya, Mega sering mengajak mereka ziarah ke taman makam pahlawan. Tabur bunga tidak hanya dilakukan di makam-makam yang dikenal tetapi juga makam anonim.

Sekalipun anonim, mereka pernah hidup dan pernah berjuang untuk kehidupan ini. Siapa yang akan mengingat dan mengirim doa untuk mereka yang namanya pun tak lagi diketahui dan diingat?

Penanaman pemahaman itu membuat anak-anak lebih mudah mengerti pentingnya menghargai orang lain. Kalau orang yang sudah meninggal, namanya pun tak dikenal, kita beri penghargaan. Masa iya sih tega mencaci orang yang masih hidup? (***)